Jumat, 16 September 2011

Try To Reflect


Take a few minutes a day for reflection. Do it on a calm morning, soon after waking. Or in the evening shortly before heading to bed. Merenunglah in silence. Do not use the mind to find different answers. In the reflection you are not looking for answers. Enough friends with tranquility then you will get clarity of mind. The answer comes from your mind clear. For days you are busy with various things. Realize that your mind needs a break. Not enough just to sleep. You need to sleep in the waking state. Merenunglah and find inner peace.

The mind is like a used soapy water are stirred in a glass cup. The more soap is mixed with the more turbid water. The faster you stir the swirling faster and faster. Pondering is to stop mixing. And let the water rotates slowly. Note the soap particles down one by one, touching the bottom of the glass. Really slowly. Without sound. In fact you could hear the soap particles entirely. Now you get clear water remaining on the surface. Is not that clear water can pass light. So it is with your mind clear.


(Sediakan beberapa menit dalam sehari untuk melakukan perenungan. Lakukan di pagi hari yang tenang, segera setelah bangun tidur. Atau di malam hari sesaat sebelum beranjak tidur. Merenunglah dalam keheningan. Jangan gunakan pikiran untuk mencari berbagai jawaban. Dalam perenungan anda tidak mencari jawaban. Cukup berteman dengan ketenangan maka anda akan mendapatkan kejernihan pikiran. Jawaban berasal dari pikiran anda yang bening. Selama berhari-hari anda disibukkan oleh berbagai hal. Sadarilah bahwa pikiran anda memerlukan istirahat. Tidak cukup hanya dengan tidur. Anda perlu tidur dalam keadaan terbangun. Merenunglah dan dapatkan ketentraman batin.
Pikiran yang digunakan itu bagaikan air sabun yang diaduk dalam sebuah gelas kaca. Semakin banyak sabun yang tercampur semakin keruh air. Semakin cepat anda mengaduk semakin kencang pusaran. Merenung adalah menghentikan adukan. Dan membiarkan air berputar perlahan. Perhatikan partikel sabun turun satu persatu, menyentuh dasar gelas. Benar-benar perlahan. Tanpa suara. Bahkan anda mampu mendengar luruhnya partikel sabun. Kini anda mendapatkan air jernih tersisa di permukaan. Bukankah air yang jernih mampu meneruskan cahaya. Demikian halnya dengan pikiran anda yang bening.)

Natural Ways Entertain You




Have we ever experienced when heavy rains flushed, we forgot to bring an umbrella. Then we had berbasah soaking cold. However, when we prepare a raincoat, it came burning hot and sweltering days. Sebalkah you?

Or maybe we never rush to pursue the time, but the trip actually choked up, as if letting us late. However, when we want to go quietly, even other motorists honked for us to accelerate the pace. Sebalkah you?

Why the state is often not friendly? They seemed to poke fun, outwit, and even laughed out loud. Is this what they called "ketidakmujuran"?

Just realize, it is nature's way of entertaining us. That's the way nature invites us to smile, laugh at ourselves, and obviously joking. Aggravation that comes from because we do not try to make friends with the situation. We're just selfish. We forget that if our desire is not achieved yet, it could not hurt us greet with a smile, albeit wry, never mind:)

(Pernahkah kita mengalami ketika hujan deras mengguyur, kita lupa membawa payung. Lalu kita pun berbasah kuyup kedinginan. Namun, ketika kita siapkan jas hujan, justru panas dan terik datang membakar hari. Sebalkah anda?

Atau mungkin kita pernah terburu-buru mengejar waktu, tetapi perjalanan malah tersendat, seolah membiarkan kita terlambat. Namun, ketika kita ingin melaju dengan tenang, pengendara lain malah membunyikan klakson agar kita mempercepat langkah. Sebalkah anda?
Mengapa keadaan seringkali tidak bersahabat? Mereka seakan meledek, mengecoh, bahkan tertawa terbahak-bahak. Inikah yang disebut dengan “ketidakmujuran”?
Sadari saja, itu adalah cara alam menghibur kita. Itulah cara alam mengajak kita tersenyum, menertawakan diri kita sendiri, dan bergurau secara nyata. Kejengkelan itu muncul dari karena kita tak mencoba bersahabat dengan keadaan. Kita hanya mementingkan diri sendiri. Kita lupa bahwa jika toh keinginan kita tidak tercapai, tak ada salahnya kita menyambutnya dengan senyum, meski secara kecut, tak apalah)